Masjid tertua di Medan berdiri sejak 1854, menyimpan jejak sejarah dan warisan arsitektur yang masih kokoh hingga kini.
Di tengah perkembangan Kota Medan yang kian modern, berdiri sebuah masjid bersejarah yang telah ada sejak 1854. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan panjang peradaban dan perkembangan Islam di Sumatera Utara. Kisahnya menyimpan nilai sejarah, budaya, dan arsitektur yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam.
Berikut ini Cerita, Budaya, dan Peristiwa Nusantara akan menyelami kedalaman Masjid Al-Osmani, mesjid tua yang ada di medan.
Jejak Awal Masjid Al-Osmani Di Kota Medan
Masjid Al-Osmani dikenal luas sebagai masjid tertua di Medan. Bangunan ini menjadi warisan penting dari era Kesultanan Deli. Keberadaannya bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Islam. Masjid ini juga menjadi simbol peradaban Islam Melayu di wilayah pesisir timur Sumatra.
Sejak abad ke 19, masjid tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah kota. Ia berdiri ketika Medan masih berkembang sebagai kawasan perdagangan strategis. Nilai historisnya menjadikan Masjid Al-Osmani lebih dari sekadar bangunan religi. Ia adalah penanda awal tumbuhnya identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Berdiri Pada Era Kejayaan Kesultanan Deli
Masjid ini didirikan pada tahun 1854 oleh Sultan Deli ketujuh, Sultan Osman Perkasa Alam. Pada masa itu, kawasan Medan mulai tumbuh sebagai pelabuhan penting. Bangunan awalnya berukuran sekitar 16 x 16 meter. Seluruh struktur menggunakan material kayu pilihan yang kokoh.
Lokasinya berada di kawasan Pekan Labuhan, sekitar 20 kilometer dari pusat kota saat ini. Karena itu, masyarakat kerap menyebutnya sebagai Masjid Labuhan. Keberadaan masjid ini membuktikan Islam telah berkembang kuat sejak masa awal. Ajarannya telah mengakar sebelum Medan menjadi kota perkebunan modern.
Baca Juga: Siapa Sangka? Asal-Usul Pulau Bali Punya Kisah Yang Tak Terduga
Renovasi Besar Dan Sentuhan Arsitektur Eropa
Perkembangan Kesultanan Deli membawa perubahan pada bangunan masjid. Pada 1870 hingga 1872 dilakukan renovasi besar di masa Sultan Mahmud Perkasa Alam. Proyek pembaruan melibatkan arsitek Jerman, G.D. Langereis. Ia mengubah konstruksi kayu menjadi bangunan permanen yang lebih luas.
Ukuran masjid diperbesar menjadi 26 x 26 meter. Perombakan ini menambah kekokohan sekaligus memperindah tampilannya. Warna kuning emas mendominasi bangunan sebagai lambang kebesaran Melayu. Sementara sentuhan hijau mencerminkan identitas Islam yang kuat.
Pusat Ibadah Dan Pendidikan Islam
Sejak awal berdiri, fungsi masjid tidak terbatas pada salat berjamaah. Tempat ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pembelajaran Islam. Para ulama dari berbagai daerah pernah singgah dan berdiskusi di sini. Bahkan tokoh agama dari Timur Tengah turut hadir dalam kegiatan dakwah.
Masjid ini juga menjadi ruang berkumpul masyarakat untuk membahas urusan sosial. Perannya meluas ke bidang pendidikan dan pembinaan akhlak generasi muda. Hingga kini, aktivitas ibadah harian tetap berlangsung secara rutin. Perayaan hari besar Islam dan kajian keagamaan masih digelar di dalamnya.
Warisan Budaya Yang Terus Dijaga
Di kompleks masjid terdapat makam para Sultan Deli. Di antaranya adalah Sultan Osman Perkasa Alam dan Sultan Mahmud Perkasa Alam. Keberadaan makam tersebut semakin menegaskan nilai sejarah kawasan ini. Masjid dan area sekitarnya menjadi saksi perjalanan panjang pemerintahan Deli.
Pemerintah Kota Medan menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya pada 1989. Status itu diperkuat melalui peraturan daerah yang terbit pada 2012. Setelah lebih dari 170 tahun berdiri, Masjid Al-Osmani tetap kokoh. Kini, selain menjadi tempat ibadah, ia juga menarik minat wisatawan dan peneliti sejarah.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.google.com
- Gambar Kedua dari www.google.com